Ayam

Oleh: Clarice Lispector

(diterjemahkan dari “A Chicken”, The Complete Stories [New Directions, 2015])

Ia ayam hari Minggu, masih hidup karena saat itu belum jam sembilan pagi.

Ia terlihat tenang. Sejak Sabtu ia meringkuk di sudut dapur. Tidak memperhatikan siapa pun, tak seorang pun mengacuhkannya. Bahkan ketika mereka memilihnya, dengan cuek menggerayangi bagian-bagian intimnya, mereka tidak bisa memastikan apakah ia ayam yang gemuk atau kurus. Tak seorang pun akan mengira bahwa ia mendambakan sesuatu.

Maka terkejutlah mereka saat melihatnya mengepakkan sayap dan untuk sesaat terbang, membusungkan dada dan, dalam dua atau tiga entakan, mencapai pagar teras. Sejenak ia dihinggapi keraguan—cukup lama bagi juru masak untuk berteriak memanggil bantuan—dan sejurus kemudian ia sudah berada di beranda rumah tetangga, dan dari sana, dengan lentingan yang kaku sekali lagi, ia melesat ke atap. Di sana ia berdiri seperti hiasan yang tidak pada tempatnya, terhuyung-huyung bertopang pada satu kaki, kemudian kaki lainnya. Keluarga itu segera berkumpul dan wajah-wajah masygul terlihat saat menyaksikan makan siang mereka nangkring di cerobong asap. Pemuda di keluarga itu, mengingat kebutuhan ganda untuk berolahraga meski tidak teratur sekaligus bersantap siang, dengan riang memakai celana kolor dan memutuskan mengikuti jejak si ayam: dengan hati-hati ia melompat ke atap di mana ayam itu, bimbang dan gemetar, segera menentukan rute selanjutnya. Pengejaran pun makin sengit. Dari atap ke atap mereka melintasi area lebih dari satu blok. Tanpa bekal memadai untuk pergulatan bertahan hidup yang keras, ayam itu harus menentukan sendiri jalan mana yang harus ditempuh, tanpa sedikit pun bantuan dari spesiesnya. Anak muda itu, bagaimanapun, adalah pemburu yang kurang gesit. Dan meski buruannya tak lebih dari seekor ayam, seruan orang-orang terdengar memecah keheningan.

Sebatang kara di dunia, tanpa ayah atau ibu, ia berlari, terengah-engah, membisu, berkonsentrasi. Kadang-kadang, di tengah pelarian, ia menggelepar megap-megap di ujung atap dan ketika anak muda itu tersandung di atap bangunan lain ia punya jeda untuk mengatur napas sejenak. Dan saat itu ia tampak begitu bebas.

Dungu, penakut, dan bebas. Tidak jemawa layaknya ayam jantan yang berhasil meloloskan diri. Apa yang ada di benaknya yang menjadikannya makhluk hidup? Ayam adalah makhluk hidup. Memang benar, kamu tidak bisa mengandalkannya untuk apa pun juga. Bahkan ia pun tidak mengandalkan dirinya sendiri untuk segala sesuatu, sebagaimana ayam jantan mengandalkan jenggernya. Satu-satunya keunggulan ayam betina adalah ada begitu banyak ayam betina hingga tiap kali mati satu tumbuh seribu pada saat itu juga seolah-olah itu ayam yang sama.

Akhirnya, saat tengah mengaso di sela pelariannya, pemuda itu berhasil menggapainya. Di tengah nyaring kotekan dan bulu-bulu yang beterbangan, ia tertangkap. Kemudian dengan gaya penuh kemenangan ia ditenteng dari atap ke atap dengan salah satu sayapnya menjuntai, lalu dilempar ke lantai dapur dengan kekerasan. Masih pusing, ia goyang-goyangkan tubuhnya sedikit, berkeok-keok dan diliputi ketidakpastian.

Saat itulah hal itu terjadi. Didera kepanikan ayam itu bertelur. Kaget, kehabisan tenaga. Mungkin telur itu keluarnya prematur. Tapi segera sesudahnya, karena memang terlahir untuk bertelur, ia tampak bagaikan induk ayam yang sudah banyak makan asam garam. Ia duduk di atas telur itu dan mengeraminya, bernapas, matanya membuka dan menutup. Jantungnya, yang begitu kecil bila tersaji di atas piring, membuat bulu-bulunya naik turun, mengalirkan kehangatan ke benda yang tidak akan pernah menjadi lebih dari sebutir telur. Gadis kecil di keluarga itu adalah satu-satunya yang berada di dekatnya dan menyaksikan semuanya dengan jeri. Namun begitu bisa menjauh dari situ, dia beranjak dari lantai dan berlari sambil berteriak:

“Mama, mama, jangan bunuh ayam itu, ia bertelur! Ia peduli pada kita!”

Semua orang berlari kembali ke dapur dan tanpa sepatah kata pun mengelilingi induk ayam muda dan baru itu. Sambil menghangatkan telurnya, ia tidak terkesan ramah atau angkuh, tidak terlihat ceria atau sedih, ia tidak memperlihatkan emosi apa pun, ia adalah seekor ayam. Yang tidak akan menerbitkan sedikit pun perasaan istimewa. Ayah, ibu, dan anak menatap ayam tersebut untuk beberapa saat, tanpa memikirkan suatu hal khusus. Tidak ada yang pernah mengelus-elus kepala seekor ayam sebelumnya. Akhirnya si ayah mengambil keputusan tiba-tiba:

“Jika ayam ini disembelih, aku takkan pernah makan ayam lagi seumur hidupku!”

“Aku juga!” seru gadis kecil itu bersemangat.

Sang ibu, yang sudah letih, hanya mengangkat bahu.

Tanpa menyadari nyawanya telah diampuni, ayam itu mulai tinggal bersama keluarga tersebut. Si gadis kecil, sepulang sekolah, akan melemparkan mapnya sambil melangkah tanpa ragu ke dapur. Kadang sang ayah terkenang: “Dan kalau dipikir-pikir, aku membuatnya lari dalam kondisi seperti itu!” Si ayam pun menjadi ratu di rumah itu. Semua orang, kecuali dirinya, tahu itu. Ia terus mondar-mandir di seputar dapur dan beranda belakang, memanfaatkan dua bakatnya: sikap masa bodoh dan kewaspadaan.

Namun setiap kali semua orang di rumah itu berdiam diri dan seperti telah melupakannya, ia mengumpulkan sedikit keberanian—sisa-sisa pelarian hebatnya—dan berkeliaran di beranda berubin, tubuhnya mengikuti gerakan kepala, berhenti sejenak seakan sedang berada di tanah lapang, meskipun kepalanya yang mungil mengkhianatinya: bergerak-gerak dan manggut-manggut dengan cepat, ketakutan purba spesiesnya telah lama berubah menjadi gerakan mekanis.

Sesekali, walau semakin jarang, ayam itu teringat lagi akan sosoknya sewaktu berada di tepian atap rumah, hendak menyerukan kehadirannya. Saat itulah ia mengisi paru-parunya dengan udara dapur yang kotor dan, sekalipun ayam betina bisa berkokok, ia tidak akan berkokok tetapi merasa jauh lebih bahagia. Namun tak terlihat ada perubahan ekspresi pada wajah di kepala yang kosong itu. Berlari, bertengger, bertelur, atau mematuki butiran jagung—itu adalah kepala ayam, kepala yang sama yang dirancang sejak permulaan zaman.

Sampai suatu hari mereka menyembelih, memakannya, dan tahun demi tahun pun berlalu.(*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s